KAJIAN

ARTIKEL


KUALITAS AMAL BERGANTUNG KUALITAS RUHANI




idrisiyyah.or.id | 

Mutiara Dzikrul Makhsus, 15 April 2021

Amal bergantung kualitas hati. Syekh Ibnu Athaillah berkata,

مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ زَاهِدٍ وَ لَا كَثُرَ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ رَاغِبٍ

"Tidaklah dihitung sedikit amal yang keluar dari hati yang zuhud. Dan tidak dihitung banyak amal yang keluar dari hati yang cinta kepada dunia".

Dalam satu masjid shalatnya bisa sama tapi berbeda kualitas amalnya. Hati yang zuhud tidak terpengaruh oleh harta atau kekuasaan yang Allah titipkan padanya. Orang yang Zuhud akan terjaga keikhlasannya dan bersih dari riya', takabbur. Maka walau hitungannya sedikit tapi kualitasnya tinggi di sisi Allah SWT.

Hitungan banyak sedikit bukan dilihat dari zahir suatu amal tapi batinnya. Hanya Allah yang mengetahui siapa yang bertaqwa, atau kualitas batin seseorang. Dan aspek ruhani mempengaruhi amal seseorang.

Syekh Ibnu Athaillah berkata,

حُسْنُ الاَعماَلِ نَتَاءِجُ حُسْنِ الاَحوالِ وَحُسنُ الاَحوَالِ منَ التـَّحَققِ فىِ مقاَماَتِ الاِنْزالِ

"Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya Ahwal, dan baiknya Ahwal itu sebagai hasil dari kesungguhan istiqamah pada maqam inzaal (apa yang diperintah oleh Allah) ."

Kebaikan amal adalah buah baiknya kondisi batin kita. Ketika batinnya baik maka akan melahirkan tindakan/amal zahir yang baik pula. Seperti air di gelas yang berisi madu akan keluar madu, bukan lainnya. Ketika ia dipanggil Allah untuk beribadah ia akan merasa senang. Karena kondisi batinnya baik. Dan Kebaikan ahwal bergantung apa tahapan-tahapan spiritual (cahaya) yang diturunkan ke dalam hati.

Agar mendapatkan maqamat al inzal, hatinya harus terus tersambung kepada Allah. Al Quran dalam Surat At Taubah: 119 menyebutkan, وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّدِقِينَ (Hendaklah engkau beserta orang-orang yang Shidiq). Dalam hadis dikatakan 'Hendaklah engkau bersama Allah, jika tidak mampu bersama orang yang bersama Allah. Karena ia akan menyampaikan engkau kepada Allah jika besertanya.'

Pengertian orang yang bersama Allah di sini adalah seorang Mursyid yang membimbingnya. Selanjutnya adalah menjaga dan membersihkan hati agar terus tersambung. Kondisi batin yang baik menyebabkan baiknya amal.

Syekh Ibnu Athaillah berkata,

لاَتتـْرُكِ الذِكْرَ لِعَدَمِ حُضوُرِكَ مَعَ اللهِ فيهِ لاَنَّ غفلَتَكَ عن وُجُودِ ذِكرِهِ أَشَدُّ من غَفلَتِكَ فى وُجوُدِ ذِكرِهِ فعَساَهُ أَنْ يَرْفَعَكَ من ذِكرٍ مع وجودِغَفلَةٍ إلى ذِكرٍ معَ وُجودِ يَقظةٍ، ومن ذكرٍ معَ وُجودِ يَقظةٍ إلى ذِكرٍ معَ وُجودِ حُضوُرٍ، ومن ذكرٍ معَ وُجودِ حُضوُرٍ إلى ذِكرٍ معَ وُجودِ غـَيْبَةٍ عمَّا سِوىَ المَذكـُورِ وَماَ ذٰلكَ على اللهِ بِعَزِيزِ

"Jangan meninggalkan dzikir, karena engkau belum bisa selalu ingat kepada Allah di waktu berdzikir, sebab kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir itu lebih berbahaya dari pada kelalaianmu terhadap Allah ketika kamu berdzikir." Semoga Allah menaikkan derajatmu dari dzikir dengan kelalaian, kepada dzikir yang disertai ingat terhadap Allah, kemudian naik pula dari dzikir dengan kesadaran ingat, kepada dzikir yang disertai rasa hadir, dan dari dzikir yang disertai rasa hadir kepada dzikir hingga lupa (fana) terhadap segala sesuatu selain Allah. Dan yang demikian itu bagi Allah tidak berat [tidak sulit]."

Kampoeng Futuh, 15 April 2021 / 3 Ramadhan 1442 H