KAJIAN

ARTIKEL


MERAWAT HATI




idrisiyyah.or.id | 

Al Quran diturunkan kepada Nabi melalui hatinya yang disebut fuad. Fungsi Al Quran di antaranya adalah Syifaul lima fish shudur (obat bagi hati). Semua tindakan manusia bergantung hatinya. Jika isi hatinya baik maka baik pula seluruh tindakannya. Begitu pula sebaliknya.

Yang esensi dan permanen dalam diri adalah hati. Hati lah yang akan dibawa pulang menghadap kepada Allah. Al Quran menyebutkan, yawma la yanf'u maluw wala banun illa man atallaha biqalbin salim. (Di hari yang tiada manfaat harta maupun keturunan, kecuali datang kepada Allah dengan hati yang selamat). (Q.S. Asy Syua'ara)

Salah satu fungsi hati adalah tempat terbitnya cahaya Allah. Manusia pernah bersaksi kepada Allah. Surat al A'raf menyatakan, 'Alastu birobbikum? Qolu bala syahidna' (Bukankah aku Tuhan kalian? Benar, kami bersaksi.') [Q.S. Al A'raf: 172]

Tetapi ketika lahir ke dunia, banyak manusia yang dipengaruhi hawa nafsunya. Terjadilah kerusakan dalam kehidupannya.

Ada 4 perkara untuk merawat hati agar selalu menghadap Allah. Menurut Syekh Ibnu Athaillah as Sakandari berkata,

كَيْفَ يَشْرُقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مِنْطَبِعَةٌ فِيْ مِرْآتِهِ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَ هُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلَاتِهِ أَمْ كَيْفَ يَرْجُوْ أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَ هُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ.

"Bagaimana hati akan dapat disinari sedangkan gambar-gambar alam maya pada ini tercap dalam kaca hatinya. Atau bagaimanakah seseorang bisa berjalan kepada Allah, sedangkan ia terikat dengan syahwat-syahwatnya. Atau bagaimana seseorang berkeinginan kuat untuk masuk ke Hadhirat Allah, sedangkan ia masih belum suci dari junub kelalaiannya. Atau bagaimana seseorang mengharapkan agar dapat memahami rahasia-rahasia yang halus sedangkan ia belum taubat dari dosa-dosanya."

Pertama, bersihkan hati dari gambaran dunia dan makhluk. Jika kita mencintai suatu benda maka akan terlukis dalam hati. Oleh karenanya benda tersebut dimanage dalam hati, bukan dikuasai. Cahaya hati adalah kendaraan hati dan asrarnya. Tanpa cahaya tidak ada kendaraannya, atau bergerak kepada Allah.

Kedua, bebaskan hati dari cengkeraman hawa nafsu. Hatinya akan bergerak kepada Allah. Orang yang berbahagia adalah yang menjadikan hatinya sebagai raja dan hawa nafsunya sebagai tawanannya. Orang yang celaka adalah orang yang sebaliknya. Karakteristik nafsu tidak mau diatur, dan cenderung kepada kenikmatan yang sesaat.

Ada orang yang suka mencari perhatian orang lain, padahal banyak orang membenci kelakuannya. Tapi orang yang berangkat hatinya kepada Allah sibuk mencari perhatian Allah.

Ketiga, bersihkan hati dari kelalaian dari Allah. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi hatiya lupa. Bahkan ketika shalat hatinya tidak hadir. Padahal di setiap waktu Allah mengawasi. Tidak ada satu tempat pun yang lewat dari tatapan Allah. Bangkitkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi diri. Allah mengetahui khianatnya mata hati dan tersembunyinya hati.

Seandainya hati manusia terbuka, maka ia mati menahan malu. Walaupun sebesar biji sawi, kebaikan maupun kebaikan akan tercatat oleh ruh. Ada ruh yang menerima nikmat. Sejak diciptakan ruh tidak akan mati. Ruh pindah dari alam dunia ke alam kubur. Ruh berpindah-pindah. Ruh itu bersifat permanen, diberi nikmat atau azab oleh Allah.

Keempat, bertaubat dari segala dosa-dosa. Ruh mendapat getahnya atas perbuatan anggota tubuh. Ada orang yang sudah mempersiapkan kematiannya. Artinya ia telah mengetahui sebagian rahasia-rahasia Allah. Ia akan merasakan bahagia menjelang kematiannya. Karena ia banyak bertaubat.

Nuzulul Quran, 26 April 2021