KAJIAN

ARTIKEL


MUTIARA TALQIN




idrisiyyah.or.id | 

Seluruh rangkaian ibadah hakikatnya adalah dzikir. Dzikir dilakukan setiap waktu dan tempat, sebagaimana diisyaratkan, 'Berdzikirlah kepada Allah dengan cara berdiri, duduk dan berbaring'.

Nabi pun mendapatkan talqin dzikir dari Gurunya, Jibril As: fa'lam annahu lailaha illallah. Kemudian Nabi Saw menalqinkan kepada Sahabat Ra.

Kalimat lailaha illallah adalah kalimat sentral. Beliau Saw bersabda: seutama-utama kalimat yang diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah lailaha illallah.

Nabi pun menalqinkan dengan sendirian (furada) kepada Sayidina Ali KrWjh. Sayidina Ali meminta kalimat yang mudah dibaca, paling dekat kepada Allah dan besar pahalanya. Kemudian ia diajarkan tentang lailaha illallah. Maka Sayidina Ali mengatakan kalimat itu banyak yang mengucapkannya. Nabi Saw menyatakan bahwa apabila kalimat itu ditimbang dengan seluruh langit dan bumi, maka ia lebih berat (kualitasnya)'.

DItalqinkan maksudnya meresapkan makna kebesaran kalimat Allah, sehingga ia diberi kekuatan dan terjaga dari tipuan dunia.

Mengucapkan lailaha illallah bukan sembarang ucap, karena anak kecil juga bisa. Tapi yang dimaksud adalah mengisinya dengan makna oleh orang yang bebas dari kezaliman dan suci dari kepentingan dunia dan makhluk. Bukan sembarang orang yang menalqinkan. Dalam kitab Sirrul Asrar disebutkan bahwa yang berhak menalqinkan dzikir adalah orang yang bertaqwa (taqiyyin wa naqiyyin).

Dengan talqin dzikir akan memiliki pemimpin dalam agama. Disebutkan dalam hadis, 'Barangsiapa yang tidak memiliki imam maka matinya seperti mati jahiliyyah'.

Dengan ditalqin, seseorang menjadikan Mursyid sebagai imam, sehingga agama dan kehidupannya berada dalam bimbingan. Nabi Saw mengingatkan, 'Hendaklah kalian dalam berjamaah!'

@MK_IDRISIYYAH 10 Mei 2019