KAJIAN

ARTIKEL


OLEH-OLEH UMROH




idrisiyyah.or.id | 

Pertama, setelah melakukan sa'i berdoa di bukit Shafa. Pada saat itu ruhani Rasulullah Saw menjelaskan bahwa apa yang dipinta akan dikabulkan, sebagaimana Siti Hajar bolak-balik antara Shafa Marwa mencari air. Siti Hajar dan Ismail yang masih kecil ditinggalkan atas nama Allah ke Palestina di lembah yang tidak ada kehidupan. Ia menerima walaupun pahit.

Nabi Ismail disimpan di suatu tempat yang kelak akan dibangun menjadi Ka'bah. Al Quran menyebutkan: inna awwala baytin wudhi'a linnas̄i laladzī bibakkata mubarōka (Sesungguhnya bangunan yang dibangun pertama kali adalah di Bakka [Mekah] yang penuh keberkahan).

Bakka artinya menangis, tempat orang menangis. Di zaman Nabi Ibrahim bangunan Ka'bah sudah tiada, yang ada hanya qawaid (pondasi)nya. Siti Hajar berdoa di antara bukit Shafa dan Marwa. Dan dikabulkan. Nabi Ismail yang kakinya menginjak-injak akhirnya keluar air (zamzam). Hingga hari ini air tersebut bermanfaat untuk seluruh manusia. Terkabulnya doa Siti Hajar bukan hanya untuk dirinya atau anaknya saja, tapi buat seluruh umat manusia.

Ketika dalam kondisi terhimpit dengan masalah dan musibah yang membuat sakit dan terluka, justru di saat itu Allah memberikan fasilitas agar doa menjadi berkualitas. Lihatlah doanya para Nabi As, seperti doa Zakaria, Yakub As.

Doa adalah proposal. Langkah usahanya harus sejalan, jangan bertolak belakang. Hal tersebut menjadi evaluasi kenapa doa belum dikabulkan.

Agama mengurus seluruh ruang kehidupan. Maka setiap memasukinya tidak boleh terlepas dari 3 hal: lillah, fillah, billah. Lillah, harus karena Allah. Fillah, langkahnya harus sesuai aturan Allah. Billah, Allah datangkan pertolongan (kekuatan). Pertolongan Allah itu pasti, yang harus dipastikan adalah lillah dan fillah-nya.

Allah berfirman: walladzīna jahadu fina lanahdiyannahum subulanā (Barang siapa yang bersungguh-sungguh di jalan Kami maka akan kami berikan petunjuk jalan-jalan Kami).

Oleh-oleh kedua. Ketika shalat subuh di Madinah, Imam membacakan surat Maryam. Syekh Akbar menerima tarbiyah ruhiyah bahwa di dalam surat tersebut ada 2 peristiwa besar, keduanya adalah mukjizat. Pertama diberikan kepada Nabi Zakaria As. Beliau sekian puluh tahun berdoa belum juga dikabulkan (diriwayatkan ketika ia berdoa sudah berusia 120 th). Allah ingin melihat kesungguhan dan jeritan orang-orang yang selalu berharap kepadanya.

"Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku," kata Nabi Zakaria memulai doanya kepada Allah. "Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai," doa Zakaria mengungkap kondisi dirinya.

Lalu Allah mengutus malaikat yang memberikan kabar gembira, bahwa doanya akan dikabulkan dengan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya, namanya belum pernah ada sebelumnya.

Nabi Zakaria menanyakan tandanya. Allah memberikan tanda berupa puasa mulut (berbicara). Banyak bicara bisa jatuh kepada kesalahan, hati menjadi keras, melantur kemana-mana. Ketika mulut diam dan hati berdzikir kepada Allah maka tidak akan terhalang hubungan dengan Allah. Khalwat dengan tidak berbicara dan mata tertutup agar hati selalu fokus kepada Allah, merupakan ajaran para Nabi As yang diajarkan langsung oleh Allah. Hal ini merupakan bagian dari pengajaran tarekat mu'tabarah.

Kisah kedua adalah Siti Maryam, wanita yang suci, selalu berbakti di rumah Allah. Jibril As membisikkan akan memberikan seorang bayi. Siti Maryam kaget, karena dirinya tidak memiliki suami. Ketika akan lahir Siti Maryam menghindari rumah karena sudah banyak yang memfitnahnya. Setelah lahir Siti Maryam diperintahkan untuk puasa bicara. Banyak orang-orang bertanya, 'Hai Siti Maryam, anak siapa yang engkau gendong?' Mereka mengolok-oloknya, dituduh berzina. Pada akhirnya bayi yang digendongnya memberikan klarifikasi atas apa yang sedang terjadi.

Dua peristiwa mukjizat ini Allah ceritaan kepada kita dan Rasulullah Saw memberikan kabar gembira bahwa Tarekat Idrisiyyah akan terus diberikan karamah-karamah besar sebagaimana mukjizat-mukjizat di masa lalu.

Tarekat Mutabarah adalah jalan yang pernah dilalui oleh para Nabi As, para Wali dan para Mursyid. Mursyid yang ditugaskan bukanlah atas dasar keinginan sendiri, hasil voting atau musyawarah. Tapi diberi tugas atas petunjuk Mursyid sebelumnya dari ruhani Rasulullah Saw. Maka murid yang membangun pesantren atas dasar ditugaskan oleh Mursyidnya. Hilanglah penyakit ujubnya karena ia merasa dititipkan (dari Mursyidnya).

Oleh-oleh Umroh ketiga adalah penguatan untuk meningkatkan strategi dan intensitas dakwah. Dimulai dari Bandung, Karawang, dan sebagainya. Dengan membangun majelis ilmu dan dzikir akan Allah turunkan pertolongan atas umat ini.

Seorang Mursyid berziarah bukan sebatas ziarah kepada maqbarahnya, sebagaimana hadis menyebutkan, 'Man zāronī ba'da wafātī kamā zāronī inda hayātī' (barang siapa menziarahiku sesudah wafatku sebagaimana menziarahiku semasa hidupku). Karena cahaya bimbingannya tidak akan pernah sirna sesudah wafatnya hingga hari kiamat. Hati dan jiwa Ulama pewarisnya dibungkus oleh cahaya Kenabian.

Suluk adalah melangkah dalam tarekat yang ditegakkan oleh Rasulullah Saw. Bukan tarekat yang mengaku (dibuat) sendiri. Ulama tasawuf telah memberikan rumusan yang jelas berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Dengan mengikutinya akan merasakan kebenaran bimbingan Islam, kenikmatan bersama Allah dan melangkah di jalan-Nya. Jika belum mereguknya maka ibadahnya sekadar fisik (capek), tidak mencicipi hakikatnya.

@MK_IDRISIYYAH 3 Februari 2019