KAJIAN

ARTIKEL


PERMOHONAN DAN PEMBERIAN




idrisiyyah.or.id | 

Mutiara Dzikrul Makhsus

Hikmah diberikan kepada para Nabi As dan Mursyid. Wayu'allimuhul kitaba wal hikmah. Yu'til hikmata man yasya'. Hikmah adalah buah yang Allah datangkan ke dalam hati.

Syekh Ibnu Athaillah as Sakandari berkata,

لَا يَكُنْ طَلَبُكَ تَسَـبُّـبًا اِلَى الْعَطَاءِ مِنْهُ فَيَقِلَّ فَهْمُكَ عَنْهُ وَلْيَكُنْ طَلَبُكَ لِإِظْهارِ الْعُبُودِيَّةِ وَقيَامًا بِحُقُوْقِ الرُّبُوْبيَّةِ.

"Jangan sampai do'a permintaanmu itu engkau jadikan sebab datangnya Pemberian Allah, niscaya akan kurang pemahaman (makrifatmu) kepada Allah. Tetapi hendaknya do'a permintaanmu itu semata-mata untuk menunjukkan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap keTuhanan Allah."

Selama ini orang awam menganggap pemberian Allah yang terhingga adalah sebab permintaan hamba-hamba-Nya.

Seorang hamba karakternya butuh kepada Allah (Al faqru). Pemberian Allah tak terhingga walau manusia tidak merasa butuh kepada-Nya. Seharusnya semakin mengenal semakin banyak meminta (butuh-Nya).

Butuh manusia dalam sekian detik. Siapa yang menjaga mata, anggota badan lainnya. Bulan, matahari, dll bergantung kepada Allah. Betapa bodoh manusia tidak merasakannya.

Ahli makrifat merasa butuh setiap saat kepada Allah. Orang yang tidak lalai mengingat Allah walau sedang bisnis. Banyak orang yang sedang shalat hatinya masih berjalan-jalan.

Hikmah yang pertama: tumbuhkan Al faqru kepada Allah untuk menunjukkan sifat kehambaan kepada Allah.

كَيْفَ يَكُوْنُ طَلَبُكَ اللَّاحِقِ سَبـبًا فِيْ عَطَائِهِ السَّابِقِ

"Bagaimana jadi permohonanmu yang datang belakangan menjadi sebab pemberian-Nya sejak dulu".

Pemberian itu dari Allah Rahman, Rahim, Wahab, Razaq, yang bersifat Azali tidak ada mula dan akhirnya. Sementara permintaan kita baru saja terjadi. Karenanya permintaan kita yang baru tidak menjadi sebab Pemberian Allah Yang Azali dan Qadim.

Hikmah: Permohonan kita tidak menjadi Sebab Permberian Allah.

جَلَّ حُكْمُ الْاَزَلِ اَنْيُضَافَ اِلَى الْعلَلِ

"Sungguh Mulia Hukum Azali bersandar pada kausalitas (sebab akibat)." Pemberian Allah karena Kehendak-Nya. Iradah-Nya tidak ada permulaannya.

Perjalanan Salik berawal dari makhluk berakhir pada Sang Pencipta Allah. Berawal dari benda-benda, kemudian mengenal Nama-nama supaya hatinya menyaksi Sifat-sifat Allah Yang Sempurna, sehingga menjadi majdzub (mabuk Ilahi).

Sebaliknya majdzub berawal dari menyaksi kesempurnaan Zat Allah, lalu diturunkan kepada Sifat, Nama-nama Allah dan turun kepada makhluk-Nya.

عِنَايَـتُـهُ فِيْـكَ لَالِشَيْءٍ مِنْكَ وَاَيْنَ كُنْتَ حِيْنَ وَاجَهَـتْـكَ عِنَـايَتُـهُ وَقَا بَلَتْـكَ رِعَايَتُـهُ لَمْ يَكُنْ فِى اَزَلِهِ اِخْلَاصُ اَعْمَالِ وَلَا وُجُوْدُ اَحْوَالٍ بَلْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ إِلاَّ مَحْضُ الْإِفْضَالِ وَعَظِيْمُ النَّوَالِ.

"Pemberian dan perhatian Allah kepadamu itu bukan kerana sesuatu yang keluar/muncul dari kamu, buktinya: di manakah kamu ketika Allah menetapkan kurnia-Nya kepadamu di zaman 'azal? di saat itu tidak amal yang ikhlas atau ahwal, bahkan tidak ada apa-apa ketika itu kecuali hanya semata-mata anugerah kurnia dan Pemberian Allah yang Agung."

Pertolongan Allah murni Karunia dan Pemberian Allah bukan sebab sesuatu dari hamba-hamba-Nya. Karena belum ada kondisi spiritual (ikhlas).

Kitab adalah sebatas bacaan jika tidak melakukan riyadhah dan mujahadah.

Kesimpulan:

- Jangan menganggap pemberian Allah dilatarbelakangi sebab permintaan kita.

- Jadikan permohonanmu untuk menunjukkan kehambaan kepada-Nya.

- Bagaimana permintaan kita menjadi sebab, sedang Pemberian Allah datang lebih dulu.

- Betapa Agung Hukum Azali yang tidak bergantung kepada kausalitas (makhluk).

- Jangan menganggap Pertolongan Allah dilatarbelakangi sebab sesuatu yang datang darimu. karena wujud spiritual belum ada, hanya Kemurnian Karunia dan Pemberian-Nya.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, Syawal 1442 H/3 Juni 2021