KAJIAN

ARTIKEL


CAHAYA YANG TAK PERNAH SIRNA




idrisiyyah.or.id | 

Mutiara Dzikrul Makhsus

Allah yang menciptakan rezeki dan menggenggam seluruh urusan langit dan bumi. Alhamdulillah, Allah pula yang membangkitkan kesadaran menuju taman surga-Nya di malam Jumat.

Dalam kitab Al Ibriz disebutkan bahwa setiap malam Jumat para Wali Allah mengadakan Diwanus Shalhin (muktamar atau konferensi), baik yang masih hidup dan sudah meninggal dunia. Yang masih hidup adalah yang hadir di majelis zikir dan yang sudah meninggal adalah yang diizinkan datang. Majelis zikir adalah majelis yang dirindukan Wali-wali Allah.

Medsos bagian teknologi harus disyukuri manfaatkan sebagai sarana taklim dan dakwah. Medsos juga bisa membawa madharat.

Syekh Ibnu Athaillah as Sakandari berkata:

أَنَارَ الظَّوَاهِرَ بِأَنْوَارِ آثَارِهِ وَأَنَارَ السَّرَائِرَ بِأَنْوَارِ أَوْصَافِهِ لِأَجْلِ ذَلِكَ اَفَلَتْ أَنْوَارُ الظَّوَاهِرِ وَلَمْ تَأْفُلُ اَنْوَارُ الْقُلُوْبِ وَالسَّرَائِرِ، وَلِذَلِكَ قِيْلَ: إِنَّ شَمْسَ النَّهَارِ تَغْرُبُ بِلَيْلٍ وَشَمْسَ الْقُلُوْبِ لَيْسَتْ تَغِيْبُ.

Allah telah menerangi alam (benda-benda zahir) dengan cahaya makhluk-Nya, dan menerangi hati (makhluk-makhluk yang batin) dengan Cahaya Sifat-Nya. Maka karena itu terbenam cahaya alam dan tidak dapat terbenam Cahaya hati dan Sir. Karena itu dikatakan: 'Sesungguhnya matahati siang itu terbenam di waktu malam, tetapi matahari hati tidak pernah terbenam.'

Ruhani manusia tidak bisa disinari oleh cahaya matahari. Qalbu manusia bersifat Nurani. Ruh manusia berasal dari Tiupan Allah. Hanya dapat disinari Cahaya Sifat-Nya. Allāhu nūrus samāwāti wal ardh. Ruhani manusia hanya membutuhkan Cahaya Sifat Allah.

Cahaya yang Zahir mengalami tenggelam, sedang Cahaya Sifat Allah selamanya bersinar (bergantung hati). Cahaya Allah ada yang sekadar datang (wushul), ada yang masuk ke dalam hati (dukhul). Cahaya yang dukhul karena bersih. Yang sekadar wushul karena di dalam batinnya masih ada gambaran dunia dan makhluk.

Nasionalisme dibangun bukan dengan nyanyian lagu nasional tapi dengan Cahaya Allah. Dahulu para Ulama yang disinari membangkitkan murid-muridnya dengan riyadhah dan mujahadah. Sehingga dapat membangkitkan semangat (ruh) berjuang. Jiwanya disinari cahaya Allah. Buktikan jiwa yang disinari Allah memiliki nasionalisme yang tinggi.

Korupsi adalah penyakit yang disebabkan hati tidak disinari Cahaya Allah dan menyebabkan negara lemah. Lebih baik tidak makan daripada korupsi.

Keluarkan gambaran dunia dan makhluk sehingga datang Makrifat dan Rahasia-Nya. Supaya menghadap hati selalu kepada Allah. Jangan hanya sekadar Shalat. Fiqihnya harus benar dan tasawufnya juga harus benar. Shalat harus sadar menghadap Allah. Hatinya dijaga, rukunnya dipelihara.

Sesungguhnya matahari siang akan terbenam ketika datang malam. Sementara matahari qalbu tidak akan terbenam. Sejak matahari terbit semua yang berkhidmah harus bergerak dengan cahaya Allah. Bekerja dan belajar karena Allah.

Kullu kalamin yabruzu walahu kiswatul qalbil ladzi minhu baroz. Setiap ucapan yang keluar memiliki kiswah (corak) hati. Ucapan itu adalah terjemahan hati. Kalau hatinya kotor, ucapannya kotor. Syekh Akbar M Fathurahman saat menjadi pengurus diajarkan bagaimana berbicara yang benar. Setiap apa yang diucapkan disalahkan oleh Gurunya. Setelah direnungkan ternyata Gurunya lebih memperhatikan kondisi batin murid. Kata-katanya keluar dari hati yang ghaflah.

Kesimpulan:

- Allah menerangi makhluk yang Zahir dengan Cahaya makhluk-makhluk-Nya. Dan menerangi yang sir dengan Cahaya Sifat-Nya.

- Cahaya matahari ada terbenamnya, sementara Cahaya Allah selamanya bersinar.

- Agar selalu bersinar: Bersihkan hati, latih hati dengan selalu zikir, jihad nafsu. Cahaya Allah akan menyinari, terjaga dan terpelihara seluruh panca indera.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, 30 Syawal 1442 H/10 Juni 2019