KAJIAN

ARTIKEL


AHLUL FANA




idrisiyyah.or.id | 

Waktu begitu cepat sampai Allah bersumpah demi waktu. Semua telah ditetapkan oleh Allah termasuk ajal. Maka kita berpacu dengan waktu. Waktu terus berjalan, maka janganlah masuk ke dalam kelompok manusia yang rugi. Seperti yang tertuang dalam surat Al Ashr.

إ ن ْ ال ْ ن سا ن ل فْ خ ر ْ س.ِ َّل إ ٱ ْ ي َّل ن ْ و ن ام ء ا مل ع و ْ وا ٱ لصا لا ت ْ و اص و ت و ا باِ ْ ل ق ْ و اص و ت ب و اِ ٱ ْ ب لص .

"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran". (Q.S. Al-'Ashr: 3)

Fana menurut bahasa artinya rusak, lebur. Menurut ilmu tasawuf leburnya diri ketika Allah hadir dalam diri. Dalam diri manusia ada 2 potensi antara keburukan (fujur) dan kebaikan (taqwa). Dalam tasawuf yang disebut musuh besar adalah diri sendiri, bukan syetan. Memerangi hawa nafsu ini berlangsung seumur hidup. Cara agar merasakan kefanaan adalah dengan menghilangkan sifat ke-aku-an. Sifat ini merupakan sifat iblis. Dia pernah berkata,

"Aku lebih baik dari Adam, aku diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah." (Q.S. Al A'raf: 12) Iblis menilai dirinya sendiri.

Mursyid berkonsentrasi bagaimana agar seorang murid menghilangkan sifat ke-aku-an yang amat berbahaya ini. Syekh Ibnu Athoillah As Sakandari dalam Kitab Hikamnya berkata, "Berbuat maksiat lalu buru-buru bertaubat kepada Allah, itu lebih baik daripada orang yang taat tapi merasa paling mulia".Ahli ibadah belum cukup karena akan digoda perasaannya 'merasa paling saleh' oleh iblis.

Ketika Syekh Akbar ditugaskan menjadi Ketua Umum Yayasan oleh Gurunya, terasa seperti wayang yang sedang dimainkan oleh seorang dalang. Sebelum 2 tahun Beliau wafat, Beliau dilatih oleh keikhlasannya. Maka dibuatlah skenario seolah-olah Syekh Akbar tidak bisa memimpin yayasan, bahkan ada yang menganggapnya melakukan korupsi. Walhasil, ketika itu Beliau merasakan fana, (lebur diri), tidak merasa ada diri, yang ada hanyalah Allah. Di saat puncak fana itu, terasa diri betapa ridho dan merasa paling hina dan rendahnya di hadapan Allah SWT. Allah pun bertajalli sehingga dirinya merasa tidak ada yang maujud (ada) melainkan Allah.

Dikisahkan Syekh Siti Jenar Sang Wali ahlul fana. Ia ditanya 'siapa kamu?' jawabnya 'Allah'. Dirinya sedang tenggelam dalam lautan fana. Sebagai murid harus belajar bagaimana menjadi fana, yakni menghilangkan sifat ke-aku-an pada diri. Ahlul fana tidak merasa dirinya ada harganya. Tiada aku, yang ada hanyalah Allah.

Caranya adalah dengan menundukkan hawa nafsu, ikuti petunjuk Allah, Rasul dan Mursyidnya. Meskipun perintah mursyidnya seperti aneh, maka ikuti, nanti akan tahu maksudnya.

Syekh Akbar Muhammad Dahlan dulu pernah mengeluarkan istilah Jangan Menuruti Diri Sendiri (Ulah Mawa Karep Sorangan). Kuncinya adalah taat kepada mursyid.Taat kepada mursyid sama dengan taat kepada Rasul. Dan taat kepada Rasul sama dengan taat kepada Allah.

Syekh Akbar Muhammad Dahlan ra. pernah bercerita ada seorang kakek yang diangkat sebagai wali Allah tapi tidak dibimbing oleh mursyid. Dikisahkan si kakek dimukasyafahkan mata hatinya ketika sedang ngulek di dapur. Ia melihat terjadi sebuah peperangan di laut antara perahu muslim dan perahu kafir. Si kakek greget ingin membela kaum muslim. Hingga tidak terasa ulekannya yang dipakai ngulek perahu orang kafir sehingga perahu orang kafir itu tenggelam. Atas perbuatannya itu maka Allah bertanya, "kenapa engkau melakukan itu tanpa perintah-Ku?" Maka akhirnya Allah cabut kewalian si kakek itu. Kenapa tindakan si kakek itu disalahkan oleh Allah? Ternyata muslim kalau kalah maka akan mati syahid, kalau menang malah jadi sombong.

Benar itu adalah Nama Allah Al Haq, maka jangan menganggap benar itu dari diri sendiri. Taat kepada Allah, Rasul dan Guru adalah prioritas utama, jangan mengikuti keinginan diri sendiri. Dalam Qur'an Allah berfirman,

"Apakah engkau tidak melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya". (Q.S. Jatsiyah: 23)

Sikap terbaik bagi murid adalah sami'na wa ato'na. Islam mengajarkan demikian. Kemuliaan umat ini kalau memiliki pemimpin yang di dengar dan ditaati. Nabi Saw pernah suatu ketika setelah sholat fardhu langsung berdiri menghadap para Sahabat Ra dan bersabda dengan suara yang lantang, "Aku berwasiat kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, dengar dan taat kepada pemimpin kalian, walaupun pemimpin kalian berasal dari kalangan hamba sahaya". Hadis ini berawal dari keputusan Nabi yang mengangkat Zaid bin Haitsah sebagai pemimpin perang. Akan tetapi para Sahabat Ra ada yang menyepelekannya, karena ia adalah mantan hamba sahaya. Menyepelekan orang yang ditunjuk oleh Nabi Saw maka itu sama dengan menyepelekan Nabi Saw.

Allah berfirman, "Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal kalian, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S. At-Taubah: 105) Beramal itu harus sesuai ketentuan.

Dengan belajar meluluhkan aku dan egoisme diri, mudah-mudahan Allah akan memberikan fana ke dalam diri kita. Mursyid adalah pemimpin bagi umat, dan umat belajar taat kepadanya. Itulah kunci bagi seorang murid. Guru artinya digugu dan ditiru.

Jiwa yang sudah luluh (fana) kemudian tumbuhlah ketaatan kepada Allah, Rasul dan Mursyid. Kelompok umat yang punya pemimpin yang didengar dan ditaati itulah yang ditakuti oleh penjajah Eropa. Inilah PR bagi kita saat ini di mana tidak ada pemimpin yang di dengar dan ditaati.

Innamal mu'minna ikhwah adalah nash Quran yang jelas. Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara (Q.S. Al Hujurat: 10) Maka keimanan itu harus didahulukan. Adapun masalah fiqih yang berbeda-beda janganlah dijadikan sebagai alasan untuk perpecahan. Problem semua di tengah-tengah umat adalah merasa paling benar, menilai dirinya sendiri paling benar, menilai orang lain salah. Akhirnya masalah-masalah besar tidak terperhatikan. Masalah furu'iyyah seperti qunut masih diributkan padahal urusan Palestina saja masih belum terselesaikan.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, 11 November 2021/7 Rabiul Akhir 1423 H