KAJIAN

ARTIKEL


2 PROSES TASAWUF NABI SAW SEBELUM DIUTUS




idrisiyyah.or.id | 

Pantaskan dan layakkan hati untuk menerima cahaya Allah SWT, karena dengan cahaya Allah itulah yang dapat menghidupkan hati. Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari dalam kitab Hikamnya mengatakan bahwa cahaya Allah itu terbagi dua. Ada yang,

a. Hanya datang kemudian pergi, karena hati banyak gambaran dunia.

b. Masuk menetap ke dalam hati, karena hati bersih dari gambaran dunia.

Nabi Saw bersabda: "Tidaklah iman kalian sempurna sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari apapun di dunia ini".

Awal penciptaan Allah SWT adalah Nur Nabi Muhammad Saw, sebelum lainnya. Ketika Nabi Adam As jatuh kepada dosa, maka Nabi Adam as. terus berdoa dengan doa yang terekam dalam Al Qur'an, "Robbanā zholamna amfusana waillam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin." (Q.S. Al A'raf: 23), dan doa ini dibaca berkali-kali namun Allah belum juga mengampuni Nabi Adam As. Sampai pada akhirnya Nabi Adam As berdoa dengan berwasilah kepada Nabi Muhammad Saw, "Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dengan haq (kedudukan) Nabi Muhammad Saw, ampunilah dosaku." Maka Allah menjawab, "Hai Adam, darimana engkau tahu Muhammad sedangkan Aku belum menciptakannya?" jawab Nabi Adam As, "ketika Engkau menciptakan aku ya Rabb dan ketika Engkau meniupkan ruhku, maka ketika aku menengadahkan kepalaku ke tiang-tiang Arasy maka aku melihat kalimat Lā Ilāha Illallāh Muhammadur Rasulullah, tidaklah Engkau menyandarkan sesuatu kepada Nama-Mu kecuali kepada ia adalah makhluk yang paling Engkau cintai". Maka Allah berkata, "Benar engkau wahai Adam, Muhammad adalah mahluk yang paling Aku cintai, berdoalah engkau dengan menyebut Namanya, maka Aku akan mengampuni dosamu".

Maka beruntunglah mereka yang berkumpul memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. Karena selain memperingati juga belajar untuk ittiba' (mengikuti) sunnah-sunnah Beliau Saw. Allah berfirman, 'qul inkuntum tuhibbūnallāha fattabi'uni, katakanlah olehmu (Muhammad), jika kalian betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku." (Q.S. Ali Imran: 31)

Ittiba' kepada Sunnah-sunnah Beliau sudah banyak dan umum, tapi ittiba' mengikuti batin Nabi Muhammad Saw ini yang masih jarang. Nabi Muhammad Saw sebelum diutus oleh Allah telah diajarkan ilmu tasawuf. Sebagai buktinya adalah:

a. Nabi Saw di usia 4 tahun diasuh oleh Halimah As Sa'diyah. Ketika sedang bermain datanglah Jibril As dan Beliau dibawa ke suatu tempat lalu dibaringkan dan dibelah dadanya, lalu dibersihkan dengan air zamzam. Jibril As berkata, "aku bersihkan dadamu dari kotoran"

Di dalam dada manusia itu ada setan Qorin. Ada yang gemuk dan kurus. Berkata setan qorin yang kurus, "Manusia yang aku tempati ketika mau makan, minum dan lainnya berdoa (membaca bismillah) dulu, sehingga aku tidak pernah bisa menikmatinya. Maka aku jadi kurus". Berkata setan qorin yang gemuk, "manusia yang aku tempati setiap mau makan, minum dan lainnya tidak baca bismillah dulu. sehingga aku ikut makan, minum dan lainnya. makanya aku gemuk". Jadi setan itu bisa masuk ke dalam hati dan menempatinya disebabkan karena cara dan apa yang dimakan dan minumnya.

Suatu ketika murid Imam Al Ghazali bertanya kepada gurunya, "Kenapa ketika aku berada di majelismu aku ingat kepada Allah. tapi ketika aku berada di luar mejelismu aku mudah sekali tergelincir dan lupa kepada Allah". Maka Imam Al Ghazali memberi penjelasan. Ibarat engkau diikuti oleh anjing, lalu engkau lempar anjing itu ia akan pergi. Tapi kemudian anjing itu kembali mengikuti engkau, lalu engkau lempar lagi anjing itu dam pergi lagi, begitu seterusnya. Ternyata engkau tidak sadar bahwa di sekelilingmu ada makanan kesukaan anjing. Itulah gambaran bahwa dalam diri manusia ada penyakit-penyakit hati, gambaran makanan bagi setan. Cara menyembuhkannya adalah dengan mengeluarkan penyakit-penyakit tersebut dari hati maka setan tidak akan masuk lagi ke dalam dirinya.

Menurut Imam Al Ghazali, minimal ada 10 penyakit hati yang lebih berbahaya daripada covid-19. Di antaranya:

a. Riya'. beribadah ingin dilihat, dipuji, dinilai oleh orang lain, ingin disebut orang saleh. Dan yang paling ditakutkan oleh Nabi Saw dibandingkan dajjal adalah syirik yang rahasia (syirkul asghar/asrar/khafi), yakni riya' dalam beribadah. Di hari kiamat kelak ada 3 kelompok besar manusia yang pertama dihisab:

1) Mati syahid di medan perang. Ketika berperang ternyata hatinya tidak ikhlas. Meninggalnya bukan karena Allah, tapi karena ingin disebut pahlawan yang pemberani. Maka Allah melemparkannya ke dalam api neraka.

2) Orang yang belajar dan yang mengajarkan ilmunya. Tetapi orang itu disebut dusta. Karena di balik ia mengajarkan ilmu ingin disebut orang alim, membaca qur'annya ingin disebut qori oleh orang lain. Maka jangan sampai niat mencari ilmu agar supaya nanti banyak orang datang kepadanya sehingga akan banyak hartanya.

3) Orang yang berindaq di jalan Allah. Tapi Allah berkata, "dusta engkau". Engkau beramal karena ingin disebut dermawan. Casingnya ibadah tapi isinya adalah ingin dapat pujian manusia (riya'). Imam Nawawi ad Dimasyqi mengarang kitab yang bernama Syarh Al Maqashid, yang berisi 3 fan (disiplin) ilmu, tentang bab tauhid, fiqih dan tasawuf. Ia menulis tasawuf sebagai ilmu pembersihan jiwa.

b. Hasad (iri, cemburu). Yakni ketika orang lain memiliki kelebihan hatinya merasa panas dan berusaha menghilangkannya. Hasad atau cemburu yang boleh dalam dua hal, yakni kepada:

(1) orang yang diberi ilmu kemudian ilmunya diamalkan.

(2) orang yang diberi harta kemudian ia membelanjakan di jalan Allah.

Hasad yang ada dalam hati akan meluluhlantakkan amal, seperti api yang memakan kayu bakar. Biasanya penyakit ini menimpa kepada orang yang satu level. Tukang beras dengan tukang beras, tukang emas dengan tukang emas, ustadz dengan ustadz. Penyakit hasad ini sangat berbahaya karena bisa mendatangkan penyakit hati yang lainnya. Imam at Thibi berkata, "Tidaklah pantas bagi orang yang alim, orang pintar yang diberi ilmu oleh Allah, yang ilmunya sudah melaut, merasa cukup dengan ilmunya. akan tetapi wajib bagi si alim itu berkumpul dengan ahlil qulub orang yang menguasai ilmu tasawuf".

Orang yang alim saja terhitung wajib apalagi yang awam. Menurut kitab Tanwirul Qulub, definisi ilmu tasawuf adalah ilmu yang dengan ilmu itu akan membuat terang benderang kondisi batin, ilmu yang mengetahui kondisi jiwa manusia yang baik atau buruk kemudian tahu cara membersihkan hati yang kotor, setelah itu mampu menghiasinya dengan akhlak yang terpuji.

Dunia ini sudah tidak seimbang. Di satu sisi kemajuan ilmu dan teknologi sudah tinggi. Negara-negara yang maju berlomba untuk tinggal di planet Mars. Kemajuan kecerdasan intelektual begitu tinggi tapi di satu sisi banyak kecerdasan spiritual manusia yang tidak tersentuh. Akibatnya banyak dekadensi moral terjadi di mana-mana. Angka kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual sudah sangat tidak seimbang. Sehingga sudah banyak terjadi orang tua membunuh anaknya, anak membunuh ibunya dst.

Dengan memperingati maulid Nabi Muhammad Saw bangkitkan dan bersihkan hati seperti Nabi Saw yang dibersihkan hatinya ketika usia 4 tahun. Nabi tidak membersihkan dirinya sendiri tapi oleh Jibril As. Maka umatnya pun tidak bisa membersihkan sendiri tapi dibersihkan lewat seorang Mursyid. Nabi Saw dikenal sebagai Al Amin yang terpercaya. Bukan karena dibranding, pencitraan, rekayasa, tapi karena proses tazkiyatun nafs oleh Jibril As. Jangan menjadi wakil rakyat yang mewakilkan nafsunya masing-masing, bukan mewakili kepentingan rakyat.

c. Hubbud dunia yang mengalahkan kecintaan kepada Allah. Penyakit ini menimpa bukan hanya orang kaya saja, tapi bisa juga menimpa rakyat jelata. Menghilangkan penyakit ini dengan cara belajar mengosongkan rasa kepemilikan terhadap dunia. Contoh yang paling mudah adalah tukang parkir. Datang mobil mewah tidak menjadi sombong. Mobil pergi tidak menjadi kecewa. Ia tidak merasa memiliki tapi ketitipan saja. Bagi yang merasa memiliki kepada dunia, bersiap-siaplah untuk kecewa.

Allah SWT berfirman, "Milik Allah lah apa-apa yang ada di langit dan di bumi". (Q.S. Ali Imran: 189) Dalam ilmu tasawuf yakinkan seyakin-yakinnya bahwa semua itu milik Allah. Walaupun dalam ilmu fiqih ada bab waris tentang kepemilikan tapi yakinkan hakikatnya semua itu milik Allah. Dalam shalat pun dibaca doa iftitah, "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku adalah milik Allah." (Q.S. Al An'am: 162) Nabi Saw bersabda, "Kelak umatku ibarat hidangan yang diperebutkan oleh orang-orang yang lapar". Sahabat bertanya, "Apakah umat Islam ketika itu adalah minoritas?" jawab Nabi Saw, 'Tidak'.

Persoalan umat Islam malah dibentur-benturkan akhirnya persatuan umat Islam terpecah-belah, terkotak-kotak tidak merasa bersaudara. Umat Islam di dunia ini masuk ke dalam hadis Nabi Saw tadi. Umat Islam ibarat buih di laut, terseret oleh arus. Hal itu terjadi sebab Allah cabut rasa haibah (segan) orang kafirin musyrikin terhadap kaum muslimin. Hati mereka diserang oleh penyakit Al Wahn, yaitu cinta kepada dunia dan takut akan mati. Itulah di antara penyakit-penyakit hati.

Di usia 35 tahun sebelum diutus Nabi Saw sudah menunjukkan kecemerlangannya ketika Kabah dilakukan renovasi. Beliau Saw diminta pendapatnya untuk mengangkat batu hajar aswad. Idenya dengan mengulurkan surban dan dipegang oleh semuanya akhirnya menghindarkan kabilah-kabilah dari pertikaian dan peperangan.

2. Di usia 40 tahun Nabi sering pergi ke gua Hira untuk bertahanus, menyendiri. hikmah bertahanus ini ternyata menjadi amalan dari wali Abdal. Rumahnya terdiri dari 4 tiang:

(1) tidak banyak bicara. Berbicara hanya yang baik atau diam.

(2) tidak bergaul kecuali memberikan kemanfaatan.

(3) lapar/berpuasa, mengurangi makan dan minum.

(4) bangun malam, qiyamul lail, tahajud untuk berdzikir kepada Allah.

Inilah 2 amalan ilmu tasawuf yang diajarkan dan diamalkan oleh Nabi Muhammad Saw. Adab dan etika itu jauh lebih tinggi dari ilmu. Sekarang banyak orang mengejar selembar ijazah atau gelar, tetapi tidak diimbangi oleh kecerdasan spiritual. Maka ikuti akhlak Nabi Saw, yakni tahapan kecerdasan spiritual yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.

@MK_IDRISIYYAH