KAJIAN

ARTIKEL


PERBEDAAN DALAM ILMU FIQIH DAN ILMU TASAWUF




idrisiyyah.or.id | 

Dzikir Makhsus, 18 November 2021

Ibadah kalau sudah istiqomah akan merasakan manis. Untuk meraihnya harus memaksakan diri dan bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsu. Sering kali terjadi antara satu majelis ilmu dengan lainnya saling bermusuhan. Padahal dalam bab fiqih dibolehkan untuk berbeda, apabila melalui proses ijtihad. Ijtihad itu mengeluarkan segala kemampuan untuk melakukan proses dalam bersyariat. Contoh dalam ijtihad para sahabat. Bani Huraidoh yang pernah melakukan MoU dengan Rasullullah Saw untuk membangun Madinah tapi justru membela musuh.

Singkat cerita terjadilah perang khondaq yang dimenangkan oleh kaum muslimin. Maka setelah perang itu Nabi Saw mendapat wahyu dari Jibril As agar memerangi Bani Huraidoh karena telah berkhianat. Sebelum berangkat pasukan perang Nabi Saw berpesan, "jangan salah satu dari kalian shalat ashar sebelum sampai di Huraidoh". Para Sahabat Ra ketika di jalan terbagi 2, ada yang tetap menjalankan shalat ashar di jalan, ada yang berpegang kepada pesan Nabi Saw. Sampailah kabar itu kepada Nabi Saw, maka Nabi Saw tidak komentar dan mendiamkan saja. Maka kisah ini menjadi contoh dalam hal fiqih, bisa saja terjadi perbedaan. Fiqih itu tempatnya khilafiyah (perbedaan). Bahkan sampai ada 4 mazhab yang masyhur. Perselisihan dan perbedaan ini jangan menjadi bahan permusuhan. Nabi Saw bersabda, dari Amar bin Ash, "Barangsiapa yang berijtihad ternyata nanti di akhirat hasil ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala. Kalau ternyata ijtihadnya salah maka ia mendapat satu pahala".

Kenapa menjadi ribut sedang hadisnya begitu jelas. Walaupun ijtihadnya salah ia diampuni dan mendapatkan pahala satu karena hasil proses ijtihadnya. Dengan banyaknya khilafiyah itu menunjukkan bahwa ilmu Allah itu luas. Tapi dalam bab tasawuf tidak boleh berbeda, seluruh masalah harus dilandasi hati yang bersih. Hati harus bersih dari penyakit batin, baru ibadahnya diterima Allah SWT. Maka dalam ilmu tasawuf takhliyyah (pembersihan hati) harus sama, tidak membedakan orang kaya maupun orang miskin. Masalah hati harus sama tidak boleh beda. Tidak ada pilihan dalam ilmu tasawuf, karena hati harus selalu bersih.

Tanjakan yang akan merusak ibadah ada dua:

1. Riya'. Ingin dipuji manusia.

2. 'Ujub. Bangga diri. Tidak boleh merasa bangga diri dan merasa paling saleh.

Merasa berdosa lalu bertaubat sampai merasa diri paling hina itu jauh lebih baik daripada mampu berbuat ketaatan tapi menimbulkan 'ujub bangga kepada dirinya sendiri. 'Ujub yang menimbulkan takabur akan merendahkan orang lain.

Cara membersihkan hati dari 'ujub dari amal saleh yang dilakukan adalah jangan merasa bahwa amal tersebut hasil usaha atau bisa sendiri. Berbahagialah kalau ketaatan itu adalah pemberian Allah, anugerah dari Allah, dan bersyukur kepada Allah. Terus paksakan ibadah sampai dirasakan manis. Ia harus menyadari bahwa ketaatan itu adalah hadiah dari Allah, bukan usaha dirinya. Sikap itu dapat menghilangkan 'ujubnya. Banyak orang dalam urusan fiqih yang boleh berbeda malah ribut. Tapi dalam urusan tasawuf yang harus sama malah banyak diabaikan. Sabda Nabi Saw, "Maukah kamu aku beritahu yang lebih berbahaya dari Dajjal? Syirik yang tersembunyi". Sabda Nabi Saw lainnya, "Kelak di hari akhirat akan dipanggil tiga kelompok.":

(1) Kelompok pertama Allah bertanya dengan nikmat-nikmat, apa yang telah engkau lakukan? Jawab mereka, "Aku berperang sampai mati karena Allah". Kata Allah, "Dusta engkau. Sebab engkau berperang karena ingin disebut pahlawan". Maka Allah melemparkan mereka ke neraka.

(2) Kemudian Allah menanyakan lagi dengan nikmat-nikmat itu apa yang engkau lakukan? Jawab mereka, "Dengan nikmat itu aku belajar dan mengajarkan agama karena Allah". "Dusta," kata Allah. "Engkau belajar dan mengajarkan ilmu dan membaca Quran karena ingin disebut ulama dan qori". Kata Allah, "Giring mereka ke neraka".

(3) Allah bertanya dengan nikmat-nikmat itu apa yang engkau lakukan? "Aku menginfaqkan hartaku karena Allah". Kata Allah, "Dusta. Engkau beramal karena ingin disebut dermawan." Maka ia juga akhirnya dilempar ke neraka".

Orang yang bermakrifat tidak butuh pujian manusia. Cukuplah Allah baginya. Walau semua manusia memujinya tidak menjamin ia masuk surga. Banyak orang yang inginnya dipuji orang aja. Inginnya di-like, di-update ke media sosial. Yang mengupdate status salah, ingin diperhatikan orang. Orang yang mengomentari dan mengamati media sosial juga salah, inginnya mencari kesalahan orang saja. Dua-duanya salah. Update status ketika mengaji boleh kalau niatnya karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali bagi yang beriman dan beramal saleh. Iman yang kuat akan mampu menegakkan amal yang saleh. Kalau imannya tipis maka tidak akan mampu beramal saleh. Apakah shalat cukup menjalankan fiqih? Tidak. Harus bertasawuf.

Bab fiqih shalatnya bisa berbeda, bacaan basmalah bisa jahar bisa sirr, tapi kalau bab tasawufnya harus sama, hadirkan hati bersama Allah. Sebelum shalat menghadap kiblat. Kemudian keluarkan dari hati gambaran-gambaran dunia dan mahluk. Segala urusan tinggalkan, urusan hanya satu kepada Allah. Shalat itu menghadap kepada Yang menciptakan langit dan bumi.

Beruntunglah menjadi santri, shalat 5 waktu terjaga. ditambah lagi dengan tahajud, isyroq, dhuha. Jika dihitung 5x30 hari x12 bulan x6 tahun, sudah berapa banyak pahalanya. Tradisi wali Allah itu membiasakan diri shalat berjamaah sampai terasa manis. Yang sudah istiqomah itu tenang. Tidak ada rasa takut dan sedih dengan urusan dunia. Begitulah wali-wali Allah bila sudah istiqomah ibadahnya.

@MK_IDRISIYYAH