KAJIAN

ARTIKEL


2 KESALAHPAHAMAN MENJADI PENYEBAB CONFLICT




idrisiyyah.or.id | 

Selama 3 hari sewaktu di Cikelet (Milad Sufi's Garut) Syekh Akbar merasakan kegelisahan yang membuat fisik agak sedikit terganggu, ternyata begitulah terjadinya proses pengilhaman. Setelah hilang barulah sadar bahwa akan turun bimbingan Ilahi. Bimbingan batin tersebut tertuang pada 2 hal penting yang diterima Beliau (sebagaimana yang telah disampaikan pada waktu khutbah tadi siang):

1. Ajaran Agama Islam dianggap telah sempurna (sebagaimana yag tertuang dalam Q.S. Al Maidah: 3). Padahal yang sempurna adalah qawā'id, dhawābith, prinsip dasar bukan ajarannya. Jika ajaran sudah sempurna kita tidak bisa menjalankan kehidupan. Karena semua yang dilakukan sesudah Nabi Saw wafat dianggap bid'ah semuanya, dan mesti melakukan persis seperti apa yang pernah dilakukan Nabi Saw. Bank Muamalat, asuransi, zakat profesi, konsultan, dsb dianggap bid'ah. Jangankan urusan di zaman sekarang, beberapa tahun sesudah Nabi Saw wafat Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq Ra menindak orang yang menolak zakat dan memerangi orang yang murtad, hal itu belum ada di masa Nabi Saw. Itu juga masuk katergori bid'ah, apalagi masalah taqsim dalam ilmu tauhid. Semuanya bid'ah.

Maka hadirlah para Ulama lah yang mengatur urusan berbagai hal menurut kondisi di zaman, dan dijadikan sebagai sumber setelah Al Quran dan As Sunnah. Seperti aturan Ijma', Qiyas, Qaul Shahabi, Istihsān, Al Mashālih Al Mursalah, dan sebagainya. Sebab Nabi Saw bersabda: "Sesungguhnya setiap seratus tahun Allah akan mengutus orang yang akan memperbaharui agama". "Maka Apa yang dipandang oleh kaum muslimin sebagai kebaikan maka di sisi Allah sebagai sebuah kebaikan". (HR. Ahmad)

Dari sisi pendidikan Kurikulum (manhaj) agama sudah sempurna. Adapun dari sisi ajaran (amteri atau madah)nya berkembang terus.

2. Terjadinya pemisahan urusan agama dengan dunia. Adakalanya seorang khatib atau Da'i memulai pembukaan ceramahnya dengan kata-kata wabihī nastai'īnu 'alā umūrid Dunyā wad Dīn (urusan dunia dan agama). Bacaan tersebut tidak benar dan tepat karena tidak ada pemisahan antara urusan dunia dan akhirat.

Perkembangan seluruh profesi dibijaki oleh agama. Agama membimbing semua aspek kehidupan, mulai dari tidur hingga bangun kembali. Agama mengatur urusan dunia untuk akhirat. Urusan kehidupan berkembang, seperti adanya asuransi, perbankan, konsultan, dan sebagainya. Hukum zakat profesi, produk-produk perbankan syariah, semuanya menjadi hukum tersendiri. Urusan dunia dan agama merupakan satu kesatuan. Tidak boleh dipisah-pisahkan. Zakat, munakahat merupakan urusan dunia.

Nabi Saw tidak menyebutkan muhdatsātul umūrid dunyā karena urusan agama juga merupakan urusan dunia. Produk-produk perbankan syariah termasuk kredit perumahan adalah urusan dunia, dan dihukumi oleh agama kehalalannya. Maka tidak ada pemisahan bid'ah hanya dalam perkara agama saja. Semua aspek kehidupan diatur oleh agama. Tidak ada bagian kehidupan ini yang tidak dihukumi.

Dari kesalahpahaman terhadap dua hal ini menjadi konflik berkepanjangan di kalangan internal umat Islam. Saling membid'ahkan, mengkafirkan, yang menyebabkan permusuhan akhirnya terjadi.

Perbuatan Syirik (menyembah berhala) tidak dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw terhadap umatnya di akhir zaman, melainkan Syirku al Ashgar. Beliau Saw telah bersabda:

"Sesungguhnya aku tidak takut (khawatir) kalian akan menjadi musyrik (menyekutukan Allah sepeninggalku nanti), akan tetapi aku takut (khawatir) kalian akan berlomba-lomba memperebutkan dunia." (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

"Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian ialah syirik kecil". Mereka bertanya, "Apakah syirik kecil tersebut wahai Rasulullah?" Jawab Beliau, "Riya'". (H.R. Ahmad ).

Sumber: Hikmah Ba'da Jum'at