KAJIAN

ARTIKEL


ALLAH BERSEMAYAM DI ATAS ARASY




idrisiyyah.or.id | 

(Penjelasan Tafsir al Qurthubi, Al Jāmi Li Ahkam Al Qurān)

Firman Allah SWT, ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ "Lalu Dia bersemayam di atas Arasy," adalah ayat yang berkaitan dengan permasalahan bersemayam. Ada beberapa pendapat ulama mengenai hal ini, dan kami telah menjelaskannya dalam Al Asnā fi Syarhi Asmā'illāh Al Husnā wa Shifātuhū Al 'Ulyā. Dalam kitab tersebut kami telah menyebutkan sebanyak empat belas pendapat. Mayoritas ulama dahulu dan ulama sekarang berpendapat bahwa jika Allah itu harus disucikan dari sifat memiliki arah dan menempati ruangan, maka sudah semestinya Allah dijauhkan dari sifat berada pada arah tertentu, dan Dia tidak berada di atas.

Karena, jika Allah berada pada arah tertentu, berarti Allah itu berada pada suatu ruangan atau menempati ruang. Sehingga, Dia bergerak atau diam di ruangan tersebut, atau berpindah tempat. Ini adalah pendapat para ahli ilmu kalam.

Sementara kaum salaf generasi pertama tidak menafikan arah dan tidak mengomentari hal tersebut. Akan tetapi, mereka dan semua orang menetapkan bahwa Allah menempati ruangan, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Quran dan informasi yang diberitakan oleh para Rasul-Nya. Tidak ada satu pun dari kaum salafushshalih yang mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas arasy-Nya secara hakiki. Penyebutan Arasy dikhususkan karena Arasy termasuk makhluk-Nya yang paling agung. Mereka tidak mengetahui bagaimana Allah bersemayam, karena semayamnya Allah tidak dalam bentuk yang sebenarnya seperti gambaran dan imajinasi manusia.

Malik berkata, "Bersemayamnya Allah itu adalah suatu hal yang diketahui, akan tetapi bagaimana Dia bersemayam tidak kita ketahui. Sedangkan mempertanyakan bagaimana Allah bersemayam adalah perbuatan bid'ah.

Seperti ini pula yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Penjelasan ini kami kira sudah cukup mewakili. Siapa saja yang ingin mengetahui penjelasan. Lebih jauh, silakan membaca kitab-kitab para ulama.

Kataالْإِسْتِوَى (bersemayam) menurut bahasa Arab artinya adalah tinggi, tetap dan kokoh.

AI Jauhar berkata, "Kata الْإِسْتِوَى dalam kalimat اسْتَوَى عَلَى ظَهْرِ دَابَّتِهِ artinya menetap. Sedangkan dalam kalimat اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ kata ini berarti menuju atau mengarah. Jadi, kata الْإِسْتِوَى artinya menguasai dan nampak."

Contoh lainnya اسْتَوَى الرجل artinya masa mudanya telah berakhir. اسْتَوَى الشَّيْءُ artinya sesuatu menjadi seimbang.

Abu Umar bin Abdul Barr menceritakan dari Abu Ubaidah tentang firman Allah SWT, الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy)." (Qs. Thahaa [20]: 5), bahwa arti kata استوى adalah naik. Dalam sebuah syair disebutkan,

فَأَوْرَدَتْهُمْ مَاءً بِفَيْفَاءٍ قَفْرَةٍ وَقَدْ حَلَّقَ النَّجْمُ الْيَمَانِيُّ فَاسْتَوَى

Maka Kuberikan air kepada mereka di padang pasir yang tandus lagi tak berpenghuni. Sementara bintang Yamani yang telah membentuk lingkaran muncul.

Menurut saya (Al Qurthubi), naik dan tingginya Allah adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan. tinggi dan luhumya keagungan, sifat, dan kekuasaan-Nya. Artinya, tidak ada satupun yang melebihi kebesaran-Nya. Tidak ada satu pun yang dapat menandingi keluhuran-Nya. Hanya Allah yang memiliki ketinggian secara mutlak. Firman Allah SWT, عَلَى الْعَرْشِ adalah lafazh musytarak yang digunakan untuk menunjukkan kata yang berarti lebih dari satu.

Al Jauhari dan berkata, "Arasy adalah tempat tidur malaikat."

Di dalam Al Quran disebutkan, نَكِّرُوْا لَهَا عَرْشَهَا "baginya singgasana-Nya." (Qs. An-Naml [27]: 41) Dalam firman yang lain disebutkan, وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ "Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana." (Qs. Yusuf [ 12]: 100) Arasy adalah atap rumah.

Pada ayat tersebut lafazh Arasy diartikan raja. Maksudnya adalah tidak ada raja yang bersemayam kecuali kepada-Nya. Ini adalah pendapat Al Hasan. Namun pendapat ini masih harus dikaji lebih dalam. Kami juga telah menjelaskan hal ini ketika mengemukakan beberapa pendapat di dalam kitab kami.

Kampoeng Futuh.